Sudah mulai mengakhawatirkan masa lajangmu
sekarang? Umur 24 tahun sepertinya sudah memulainya untuk kalian para wanita.
Belum masuk tahap menghawatirkan sekali memang tapi apa jadinya kalo
teman-temanmu sudah mulai saling berkirim undangan pernikahan?. Okeh, memang
rasanya sedikit aneh saat kemarin rasanya baru sibuk memikirkan bagaimana cara
terbaik untuk mengahbiskan waktu bermain dan sekarang pembahasannya sudah
beralih mengenai pernikahan. Hah, layaknya seorang wanita dewasa saja walaupun
pada kenyataannya memang usia ini sudah tidak bisa disebut remaja lagi walau
rasanya enggan sekali untuk megakuinya. Masih sibuk main sana sini tapi
teman-temanmu sudah sibuk dengan konsep pernikahannya. Ada yang salah dengan
dirimukah?. Sepertinya memang ini semua terasa aneh sekarang kalau tidak
sedikit memikirkannya. Konsep berpacaran yang baik untuk menuju jenjang itu
saja rasanya belum bisa diartikan dengan baik. Entah ini dinamakan konsep apa
saat seorang wanita hanya ingin berfokus dengan bagaimana cara mendapatkan uang
sebanyak-banyaknya lewat pekerjaan yang dia sukai dan sibuk mencari modal untuk
melanjutkan pendidikan di usia saat yang lainnya sudah sibuk dengan konsep
pernikahan. Semoga ini tidak salah, ini ibarat hanya melalui jalan yang sedikit
berbelok walaupun pada akhirnya akan melalui jalan yang sama juga, tapi mungkin
ada yang lebih suka untuk melewati jalanan yang berkelok, naik turun, banyak
semak dan pohon dibandingkan melalui jalan lurus dan sudah tertera petunjuk
arah yang jelas layaknya di jalan tol.
Kalaupun konsepmu itu sekarang masih
ditertawakan olah banyak temanmu karena terlihat tidak realistis dan hanya
untuk sekedar pencitraan sesaat karena memang pada kenyataannya kamupun belum
memiliki siapa yang akan diajak untuk membangun konsep pernikahan, tenang
kalian tidak sendiri dan saya yakin itu. Tidak ada yang salah, mereka hanya
cukup melihatnya entah itu melihat dari jauh maupun dari dekat sekalipun
asalkan tidak banyak berkomentar yang tidak penting. Cukup hargai konsep
masing-masing daripada kita sendiri karena kita tidak akan pernah tau apa yang
terjadi apa yang terjadi di depan nanti, mana yang akan terlihat lebih
membahagiakan. Konsepmu yang terlihat tidak realisitis diawal karena terlihat
seperti hanya bualan belaka ataupun konsep yang sudah terlalu biasa menurutmu
yang hampir bisa ditebak akhirnya.
Soal konsep yang itu-itu saja dan mudah
ditebak apakah memang banyak orang yang menyukainya?. Seperti halnya konsep menikah
diusia muda, berharap langsung bisa punya anak, suami yang siaga dan akhirnya
hidup bahagia. Begitulah singkat ceritanya tanpa memikirkan pertengahan
konsepnya sebelum menuju akhirnya, kebanyakan hanya memikirkan begini awalnya
lalu berekspetaksi begitu akhirnya. Konsepmu pun seperti itu, seperti mengaharapkan
banyak ekspektasi, tapi kamupun memikirkan ekspektasi yang tepat untuk
pertengahan konsep sehingga hasilnya mungkin bisa menghasilkan kebahagiaan yang
tidak terduga. Kejutan memang tidak pernah menyenangkan sekalipun pada akhirnya
memang untuk membuat senang, tapi apa yang diharapkan dari sebuah hal yang
tidak kita pikirkan sebelumnnya pasti akan lebih mengarah ke negative surprise
untuk berjaga-jaga dibandingkan dengan berpikir positif.
Kalaupun terlihat lambat dengan konsep yang
sudah kamu buat padahal kamu tahu bahwa jalan itu punya jarak yang lebih jauh
dari yang lain dan kamu belum sama sekali memulainnya, berekspektasilah mungkin
saat diawal kamu akan berangkat ternyata ada tambahan sesuatu yang tidak
terduga yang tidak didaptkan oleh mereka yang sudah berangkat terlebih dahulu dan
itu memacumu dua kali lebih cepat dari yang lain atau berharap jalan yang
biasanya lurus itu ternyata sedang dalam perbaikan sehingga perjalanannya akan
tersendat. Yang jelas pasti ada saatnya memikirkan mengenai bagaimana menyusun
konsep pernikahan itu dimulai dari mencari partner mana yang baik untuk diajak
berdiskusi membicarakan mengenai konsep itu, tentunya berdiskusi secara dewasa
dan demokratis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar