story

Jumat, 13 November 2015

Suka Musiknya.... menenangkan...

Tiap orang pasti suka mendengarkan musik, entah sedang bersantai dirumah, menunggu kemacetan, menemani dalam kereta pasti selalu ada waktu sejenak untuk mendengarkan musik.

Jadi jenis musik apa yang kau suka?

Terlalu banyak genre musik yang sayang sekali untuk tidak didengar, tapi tiap orang pasti punya kesukaan jenis musik tersendiri.

Entah ini jenis musik jazz, groove, fussion jazz, instrumental jazz tapi memang aku mulai menyukainya. Bahkan cenderung kini lebih menyukai band-band indie yang jarang muncul di televisi tapi punya tempat tersendiri untuk didengar.

Alasannya?, berbeda, lain dari kebanyakan, menenangkan, punya idealis didalam lagunya.

Bahkan mulai menyukai instrumental gitar jazz, saxophone jazz, yang bisa didengarkan kapanpun tidak harus menunggu hujan atau malam biar sesuai dengan lagunya. Tidak ada lirik didalamnya tapi bisa memaknainya sendiri. Ada judul didalamnya tapi tidak ada lirik didalamnya, lalu bagaimana kita tahu kalau musik didalam lagu itu menggambarkan judulnya?. Entahlah, yang jelas kita jadi bebas merasakan ketenangan dalam setiap tiupan saxophone dan petikan gitar tanpa peduli arti lirik lagu tersebut.

Lain lagi dengan band indie akustik yang terkadang hanya bermodal gitar akustik tapi dengan vokalis bersuara unik yang tidak banyak ter-expose oleh televisi. Atau juga dengan band indie dengan jenis musik yang unik, tetapi masih masuk ditelinga dengan enaknya. Idealisme bermusik tanpa harus memperdulikan keinginan pasar justru menjadikannya istimewa dan eksklusif. Salah satu menjadikan hal tersebut disukai olehku karena tingkat eksklusifitasnya yang tidak perlu diragukan lagi.
Mereka punya penggemar fanatik tersendiri.

Musik yang santai, menenangkan, dan menyejukkan. Tidak perlu berteriak-teriak tetapi sampai ditelinga dengan baik.

Tidak perlu lirik didalamnya tapi sudah mengena dihati.

Semua memang sesederhana itu dalam mencari kesukaan dalam pendengaran bermusik, tapi setiap musik dibuat dengan tidak sesederhana itu pastinya. Butuh pemikiran, butuh dedikasi keras, butuh ide tinggi, butuh konsentrasi, dan butuh hati untuk cinta dengan lagunya.

Salut untuk mereka yang selalu berjuang dengan apa yang mereka suka.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Dieng Culture Festival: Campuran Antara Budaya, Musik Jazz, dan Lampion


Tiap daerah kini sedang gencar-gencarnya melakukan promosi tempat wisata besar-besaran untuk menarik minat wisatawan. Karena kita tahu bahwa wisatawan merupakan salah satu sumber devisa terbesar pemasukan sumber pembangunan daerah bila dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Tidak hanya mengunggulkan banyaknya tempat wisata tapi juga menampilkan beragamnya festial kesenian yang terdapat di setiap daerah guna menonjolkan ciri khas kesenian masing-masing daerah.
Menelusuri tempat dataran tinggi yang ada di Jawa Tengah, pandangan kita tertuju pada salah satu dataran tinggi yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, yaitu Dataran Tinggi Dieng. Daerah yang terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo memiliki begitu banyak tempat wisata alam yang mengagumkan. Saat samapi disini tentunya kita akan langsung disuguhkan dengan udara dingin khas Dieng dan Aroma belerang yang cukup kuat. Di Dieng ini terkenal memiliki beberapa kawah seperti kawah Candradimuka dan juga kawah Sikidang dan bau belerang itu dihasilkan dari kawah tersebut. Selain itu juga ada telaga yang berbeda dengan telaga pada umumnya yaitu tegala yang berwarna sehingga disebut dengan telaga warna. Jika ingin berwisata sejarah juga terdapat kompleks Arjuna sebagai bukti peninggalan jaman Hindu pada saat itu. Jika ingin mendapatkan sunrise terbaikpun, Dieng adalah salah satu tempat yang tepat. Kalian bisa menikmati sunrise dari Bukit Sikunir maupun dari Bukit Prau.
Begitu banyak memang tempat wisata yang ada di Dieng ini sehingga menjadikan tempat ini tidak pernah sepi dari para wisatawan. Selain berbagai tempat wisata menarik yang ada di Dieng ada sebuah festival tahunan di Dieng yang tiap tahunnya selalu menyedot banyak wisatawan untuk berkunjung kesana. Festival itu disebut dengan “ Dieng Culture Festival”. Ini adalah agenda rutin yang dilaksanakan oleh kabupaten Banjarnegara yang dipenuhi dengan berbagai acara yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan. Saya menyempatkan hadir di festival ini pada tahun 2014 tepatnya dilaksanakan pada akhir Agustus. Acara ini memang diadakan ketika sedang musim kemarau sekitar bulan Juli ataupun Agustus sehingga bisa bebas menikmati festival ini dari awal sampai akhir tanpa terhalang dengan adanya hujan. Resikonya saat musim kemarau udara di Dieng akan menjadi lebih dingin dari biasanya, bahkan hingga ada bunga es semacam butiran halus es yang akan kita jumpai pagi hari saat sedang berada di Dieng.
Untuk mengikuti festival ini, pengunjung disarankan untuk membeli tiket yang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara dan bisa didapatkan secara online. Tiket sendiri dijual dalam berbagai kelas mulai dari kelas festival, VIP, hingga VVIP dengan kisaran harga 175 ribu hingga 250 ribu. Setiap tahunnya tiket Dieng festival ini terjual habis hingga banyak wisatawan yang tidak kebagian untuk mendapatkannya, padahal panitia penyelenggara sudah menyediakan tiket ribuan sesuai dengan kuota. Wisatawan dari berbagai daerah berkumpul semua untuk ikut meramaikan festival ini, tidak hanya wisatawan yang sekedar ingin menghabiskan akhir pekan mereka tetapi banyak para rekan media yang memang sudah mengincar momen festival ini untuk dijadikan bahan berita.
Wonosobo dan Banjarnegara sendiri sudah terkenal menjadi tempat yang asri dan memiliki udara sejuk, apalagi saat kita sudah menapakkan kaki di dataran Tinggi Dieng maka akan semakin terasa hawa sejuk yang cenderung dingin yang ditawarkan didaerah ini. Untuk mencapai dataran tinggi Dieng sendiri banyak berbagai cara baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, dan bisa ditempuh dengan dua jalur baik via wonosobo maupun via Banjarnegara karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnnya bahwa dataran tinggi Dieng ini terdapat di 2 kabupaten. Kebanyakan wisatawan menggunakan jalur via Wonosobo untuk mencapai Dieng, selain jalanannya sudah rapi juga akses kendaraan umum lebih mudah jika ditempuh dari terminal Wonosobo. Ketika Dieng Festival saya bersama 3 teman wanita saya mencoba menggunakan jalur Banjarnegara menggunakan motor, alasan kami memilih jalur tersebut adalah dipicu dengan rasa penasaran bagaimana kondisi jalur via Banjarnegara yang sebenarnya karena setiap saya main ke Dieng saya selalu menggunakan jalur via Wonosobo yang sudah umum digunakan. Benar memang jika lewat jalur Banjarnegara jalanan yang dilewati jauh berbeda jika melewati Wonosobo. Kondisi jalanannya sendiri tidak serapi saat melewati Wonosobo, kondisi aspal banyak yang rusak ditambah lagi dengan banyaknya tanjakan dan belokan yang tajam membuat kita harus selalu berhati-hati dalam memacu kendaraan kita. 4 orang wanita, 2 sepeda motor mencoba untuk menelusuri jalanan menuju Dieng untuk bisa melihat pergelaran Dieng Culture Festival dan akhirnya perjalanan panjang itu bisa dilalui dengan selamat walaupun terkadang ada bagian sulit tetapi pemandangan indah selama perjalanan mengalahkan segalanya.
Baikknya untuk mencapai Dieng melewati jalur Wonosobo yang sudah umum untuk dilewati karena sangat mudah untuk akses kendaraann umumnya pula. Untuk mereka yang berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Bandung, ataupun kota lainnya dan menggunakan kendaraan umum, jika kalian menggunakan kereta kalian bisa berhenti di stasiun Purwokerto ataupun Stasiun Kutoarjo untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju terminal Wonosobo menggunakan bus kecil  yang ada atau juga bisa langsung menggunakan bus dari kota masing-masing dengan tujuan terminal Wonosobo. Dari terminal Wonosobo perjalanan dilanjutkan menggunakan bus elf jurusan Dieng.
Selain transportasi untuk menuju Dieng yang perlu dicermati adalah mengenai akomodasi. Tidak sulit untuk menemukan penginapan di Dieng sebenarnya, tetapi saat Festival Dieng pasti akan kesulitan untuk menemukan penginapan baik seperti motel maupun homestay. Jika tidak dipesan jauh-jauh hari pastinya akan kesulitan untuk mendapatkannya. Tiket yang berlaku tidak termasuk untuk akomodasi sehingga wisatawan diharapkan mendapatkan penginapan sendiri baik melalui jasa biro perjalanan maupun mencarinya sendiri. Untuk yang tidak mendapatkan penginapan jangan khawatir, pihak penyelenggara menyediakan camping ground untuk mereka yang tidak mendapatkan penginapan atau hanya sekedar ingin merasakan sensasi kedinginan didalam tenda. Saya bersama teman-teman memutuskan untuk tinggal di camping ground dengan biaya sewa 100 ribu sudah termasuk dengan tenda dumbnya yang cukup untuk menampung hingga 4 orang pengunjung.
Pengelola camping ground juga menyediakan lahan kosong tanpa tenda tentunya dengan harga yang lebih murah tapi lebih sedikit merepotkan karena kita harus menyiapkan tenda sendiri. Area camping ground ini masih terletak di sekitaran kompleks Candi Arjuna tempat berlangsungnya seluruh kegiatan sehingga kita tidak akan kerepotan untuk mengikuti seluruh acara. Di tempat tersebut juga disediakan fasilitas toilet buatan, keran buatan dan mushola buatan untuk memudahkan para wisatawan yang menggunakan area camping ground. Karena udara dingin yang bisa mencapai suhu 10 derajat celcius sangat dianjurkan untuk membawa perlengkapan seperti jaket outdoor, sarung tangan, kaos kaki, slepping bag dan matras untuk yang tinggal di tenda. Api unggun juga disiapkan di tengah-tengah area camping ground yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar menghangatkan tubuh sambil duduk-duduk santai atau juga bisa digunakan untuk membakar jagung sambil menghabiskan malam.
Apa yang membedakan festival Dieng dengan festival lainnya yang ada di daerah lain?. Tentunya banyak sekali perbedaannya dengan festival yang ada. Inti dari Festival DIeng disini adalah sebenarnya prosesi pemotongan rambut gimbal anak asli Dataran Tinggi Dieng. Menarik memang karena di Dieng sendiri terdapat beberapa anak yang mempunyai rambut gimbal sedari lahir sehingga ini bukan gimbal buatan. Anak berambut gimbal ini dipercaya masih memiliki keturunan Dewa, sehingga dalam pemotongan rambut gimbal juga dilakukan tidak dengan sembarangan. Prosesi pemotongan rambut gimbal sendiri bisa dilaksanakan jika si-anak mau sendiri untuk dipotong rambutnya sehingga tidak ada paksaan dari pihak orangtua maupun dari pihak lain. Dan sebelum dipotong rambutnya, anak ini diperbolehkan meminta syarat apapun dan nantinya akan diberikan kepada si-anak setelah prosesi pemotongan rambut gimbal ini selesai. Saat saya menghadiri festial ini ada 7 anak yang akan dipotong rambutnya dan dengan berbagai macam syarat yang diminat oleh si-anak. Ada yang meminta sepeda baru, sekeranjang coklat, handphone, ada juga yang hanya minta didoakan selalu sehat dan menjadi anak yang pintar. Setelah pemotongan rambut gimbal ini dipercaya rambut anak ini tidak akan tumbuh gimbal lagi melainkan tumbuh secara normal dan tidak sakit-sakitan lagi. Prosesinya sendiri ada beberapa tahapan mulai dari sang anak diarak dari rumah tetua menuju pelataran kompleks Candi Arjuna tempat dilaksanakannya prosesi pemotongan rambut gimbal, dan selanjutnya potongan rambut gimbal tersebut akan diletakkan atau dibuang di telaga warna Dieng. Jadi tidak sembarangan prosesi ini dilaksanakan, kental dengan unsur tradisional dan kepercayaan leluhur yang masih dipegang teguh hingga sekarang oleh para masyarakat sekitar Dieng.
Prosesi pemotongan rambut gimbal hanya sebagian rangakaian gelaran Dieng Culture Festival yang dijadikan acara puncak atau acara inti, tetapi sehari sebelumnya banyak sekali acara yang tidak kalah meriahnya. Sehari sebelumnya sudah digelar rangkaian acara seperti festival budaya yang menampilkan kesenian-kesenian lokal dari daerah Banjarnegara maupun Wonosobo, lalu ada acara minum Purwaceng bersama-sama, purwaceng sendiri adalah tanaman herbal yang hanya tumbuh di Dieng sejenis gingseng yang bermanfaat untuk menambah stamina dan dipercaya mampu menambah stamina untuk para kaum pria. Malam harinya digelar pertunjukan musik jazz dengan judul “Jazz Atas Awan” dan dibarengi dengan penerbangan ribuan lampion yang mengiasi langit Dieng pada malam hari. Ini bagian paling indah menurut saya dari Dieng Culture Festival karena selain menikmati dinginnya malam Dieng yang cukup menusuk tulang tetapi kemudian dihangatkan dengan alunan music jazz yang semakin menambah semarak suasana malam Dieng. Puluhan line up musisi jazz yang diundang untuk berpartisipasi dalam festival jazz ini mulai dari musisi lokal sekitar Dieng dan Jawa tengah tetapi juga terdapat musisi dari Jakarta dan Bandung yang ikut memeriahkan festival jazz tersebut. Sambil menikmati jazz, saat bersamaan juga diterbangkan ribuan lampion yang akan memenuhi langit sekitaran kompleks candi Arjuna dan selain itu pula disertai dengan pesta kembang api yang mengagumkan. Untuk tahun ini kegiatan penerbangan lampion dan festival jazz diadakan dimalam berbeda, tidak seperti tahun sebelumnya yang selalu dilaksanakan dimalam yang sama. Lampion tersebut diterbangkan oleh para pengunjung yang sebelumnya sudah mendapatkan tiket Dieng Festival dan dalam tiket tersebut sudah termasuk mendapatkan kaos, jagung bakar, lampion, kain, dll.
Tidak heran festival ini selalu menarik minat wisatawan untuk kembali kesini walaupun sudah pernah dating ditahun sebelumnya, festival ini tidak akan pernah membuat bosan para pengunjungnya. Buat kalian yang menyukai jazz ada festival jazz Atas Awan, untuk kalian yang ingin merasakan keindahan dan keromantisan malam Dieng bisa dengan ikut serta menerbangkan lampion bersama dengan ribuan lampion yang lain sehingga warna-warni langit candi Arjuna menjadi berubah berwarna. Untuk mereka yang ingin mengetahui kebudayaan di Dieng bisa langsung ikut prosesi pemotongan rambut gimbal dan juga atraksi kesenian lokal Dieng. Lengkap rasanya dan tidak akan rugi jika kita menghabiskan akhir pekan kita untuk mendatangi festival ini yang hanya diadakan sekali dalam setahun ini.


Senin, 07 September 2015

Kunjungan ke Pantai Karang Agung Kebumen Supaya Terlihat Sedikit Kekinian

keliatannya sih udah deket, udah keliatan air lautnya gitu, tapi nyatanya?

Ya dan semamkin dekat menuju pantai
Jadi ini cuma lebih karena penasaran sama apa yang udah dibilang sama anak gaul Kebumen yang sering exploring Kebumen katanya. Semenjak banyak program travelling di tipi, sekarang jadi banyak tempat-tempat didaerah yang dulu ngga pernah didatengin sekarang mendadak menjadi temapt ngehits gitu.

Oke pembahasan ini sedikit alay, tapi kalo dilihat memang deretan pantai selatan mana sih yang jelek? kayanya emang ngga pernah ada, semuanya layak buat dicap jadi tempat indah. Makanya Nyi Roror Kidul bedath disana, oke skip yang ini sedikit horor. Dengan wilayah pantai yang langsung berbatasan dengan Samudra Hindia bikin pantai di pesisir Selatan punya ombak yang gede. Jadi pada intinya karena Pantai Karang Agung di Kebumen ini adanya di pantai selatan jadinya ini masuk kategori pantai yang Indah dengan ombak besar. Oke kesimpulan yang aneh.

Buat dateng kesini butuh usaha, karena mobil atau motor kalian ngga bisa parkir langsung didepan pantai terus kalian langsung nyebur ke pantai. Kalian kudu menuruni bukit memasuki wilayah perhutani jadi kalo judulnya buat dateng ke pantai sana adalah menuruni bukit itu artinya kalian tau sendiri saat harus pulangnnya apa yang harus kalian lakukan.
Yee, pada akhirnya menjejakkan kaki di pantai
yang lagi kekinian di Kebumen

Cuma sekedar duduk santai sambil pasang earphone
 di kuping udah cukup pake banget





Ini sambil ngadem, terus tiduran
kalo ngga inget jauh mungkin udah mau
tiduran sampe malem disini
Ya emang ngga bisa bikin istana pasir disini tapi batu karangnya kelewat asik buat ditatap
Biar ada bukti kalo ini gue sendiri yang kesini bukan cuma ambil foto di google
Pada intinya ini pantai emang nyenengin dan bikin betis kaku, tapi emang kudu gitu kalo kata anak trip buat nemuin tempat yang emang layak buat didatengin.

Kapan?... Masih Dalam Bentuk Konsep, Tunggu Saja...

Sudah mulai mengakhawatirkan masa lajangmu sekarang? Umur 24 tahun sepertinya sudah memulainya untuk kalian para wanita. Belum masuk tahap menghawatirkan sekali memang tapi apa jadinya kalo teman-temanmu sudah mulai saling berkirim undangan pernikahan?. Okeh, memang rasanya sedikit aneh saat kemarin rasanya baru sibuk memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengahbiskan waktu bermain dan sekarang pembahasannya sudah beralih mengenai pernikahan. Hah, layaknya seorang wanita dewasa saja walaupun pada kenyataannya memang usia ini sudah tidak bisa disebut remaja lagi walau rasanya enggan sekali untuk megakuinya. Masih sibuk main sana sini tapi teman-temanmu sudah sibuk dengan konsep pernikahannya. Ada yang salah dengan dirimukah?. Sepertinya memang ini semua terasa aneh sekarang kalau tidak sedikit memikirkannya. Konsep berpacaran yang baik untuk menuju jenjang itu saja rasanya belum bisa diartikan dengan baik. Entah ini dinamakan konsep apa saat seorang wanita hanya ingin berfokus dengan bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya lewat pekerjaan yang dia sukai dan sibuk mencari modal untuk melanjutkan pendidikan di usia saat yang lainnya sudah sibuk dengan konsep pernikahan. Semoga ini tidak salah, ini ibarat hanya melalui jalan yang sedikit berbelok walaupun pada akhirnya akan melalui jalan yang sama juga, tapi mungkin ada yang lebih suka untuk melewati jalanan yang berkelok, naik turun, banyak semak dan pohon dibandingkan melalui jalan lurus dan sudah tertera petunjuk arah yang jelas layaknya di jalan tol.

Kalaupun konsepmu itu sekarang masih ditertawakan olah banyak temanmu karena terlihat tidak realistis dan hanya untuk sekedar pencitraan sesaat karena memang pada kenyataannya kamupun belum memiliki siapa yang akan diajak untuk membangun konsep pernikahan, tenang kalian tidak sendiri dan saya yakin itu. Tidak ada yang salah, mereka hanya cukup melihatnya entah itu melihat dari jauh maupun dari dekat sekalipun asalkan tidak banyak berkomentar yang tidak penting. Cukup hargai konsep masing-masing daripada kita sendiri karena kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi apa yang terjadi di depan nanti, mana yang akan terlihat lebih membahagiakan. Konsepmu yang terlihat tidak realisitis diawal karena terlihat seperti hanya bualan belaka ataupun konsep yang sudah terlalu biasa menurutmu yang hampir bisa ditebak akhirnya.

Soal konsep yang itu-itu saja dan mudah ditebak apakah memang banyak orang yang menyukainya?. Seperti halnya konsep menikah diusia muda, berharap langsung bisa punya anak, suami yang siaga dan akhirnya hidup bahagia. Begitulah singkat ceritanya tanpa memikirkan pertengahan konsepnya sebelum menuju akhirnya, kebanyakan hanya memikirkan begini awalnya lalu berekspetaksi begitu akhirnya. Konsepmu pun seperti itu, seperti mengaharapkan banyak ekspektasi, tapi kamupun memikirkan ekspektasi yang tepat untuk pertengahan konsep sehingga hasilnya mungkin bisa menghasilkan kebahagiaan yang tidak terduga. Kejutan memang tidak pernah menyenangkan sekalipun pada akhirnya memang untuk membuat senang, tapi apa yang diharapkan dari sebuah hal yang tidak kita pikirkan sebelumnnya pasti akan lebih mengarah ke negative surprise untuk berjaga-jaga dibandingkan dengan berpikir positif.

Kalaupun terlihat lambat dengan konsep yang sudah kamu buat padahal kamu tahu bahwa jalan itu punya jarak yang lebih jauh dari yang lain dan kamu belum sama sekali memulainnya, berekspektasilah mungkin saat diawal kamu akan berangkat ternyata ada tambahan sesuatu yang tidak terduga yang tidak didaptkan oleh mereka yang sudah berangkat terlebih dahulu dan itu memacumu dua kali lebih cepat dari yang lain atau berharap jalan yang biasanya lurus itu ternyata sedang dalam perbaikan sehingga perjalanannya akan tersendat. Yang jelas pasti ada saatnya memikirkan mengenai bagaimana menyusun konsep pernikahan itu dimulai dari mencari partner mana yang baik untuk diajak berdiskusi membicarakan mengenai konsep itu, tentunya berdiskusi secara dewasa dan demokratis.

Jumat, 21 Agustus 2015

Ini bukan keluhan

Iri dengan orang yang selalu melewati jalan lurus dan mulus?. Tidak perlu bertemu dengan lubang sehingga perjalanannya tidak terganggu, tidak pelu kebingungan mengatur rem dan gas saat ada ditikungan tajam, tidak perlu ketakutan saat menuruni turunan terjal. Jalanan lurus dan mulus bisa dengan mudah mengendarainya. Bisa dengan stabil mengatur kecepatan tanpa kuatir bertemu dengan lubang jalanan, tikungan tajam ataupun turunan dan tanjakan terjal. Tapi jalanan yang lurus dan mulus tentunya akan membuat kita merasa bosan selama perjalanan karena tidak akan menemui tantangan dan akan sangat mudah menurunkan konsentrasi dalam berkendara dan justru karena kenyamanan tersebut terkadang kecelakaan malah sering terjadi.

Sama kaya idup yang ngga bisa kita pilih akan dapat jalanan yang banyak masalah, resiko dan tantangan hidup atau jalanan yang lurus dan mulus layaknya orang yang selalu dapat banyak keberuntungan didalamnya. Manusia memang tidak bisa menentukan jalanan apa yang bisa dilewati, mana ada orang yang susah payah mau lewat jalanan berlobang dan pastinya akan lebh lama sampai ketimbang dengan jalanan yang bebas tanpa hambatan. Hidup itu memang bukan pilihan tapi bagaimana kita mau menjalaninya itu yang akan jadi pilihan kita, akan memilih banyak mengeluh selama perjalanan sehingga sama sekali tidak menikmati perjalanannya dan terasa akan menjadikan perjalanan yang melelahkan atau cukup menikmat selama perjalanan yang terasa lama tetapiakan banyak hal indah yang ditemui.


Nantinya tentu akan punya banyak cerita yang dibagikan karena perjalanan kita lebih lama dan banyak hal berbeda yang ditemui berbeda halnya dengan yang lurus dan mulus pasti cerita yang didapatkan tidak ada sama sekali.