Tiap
daerah kini sedang gencar-gencarnya melakukan promosi tempat wisata
besar-besaran untuk menarik minat wisatawan. Karena kita tahu bahwa wisatawan
merupakan salah satu sumber devisa terbesar pemasukan sumber pembangunan daerah
bila dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Tidak hanya mengunggulkan banyaknya
tempat wisata tapi juga menampilkan beragamnya festial kesenian yang terdapat
di setiap daerah guna menonjolkan ciri khas kesenian masing-masing daerah.
Menelusuri
tempat dataran tinggi yang ada di Jawa Tengah, pandangan kita tertuju pada
salah satu dataran tinggi yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, yaitu
Dataran Tinggi Dieng. Daerah yang terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten
Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo memiliki begitu banyak tempat wisata alam
yang mengagumkan. Saat samapi disini tentunya kita akan langsung disuguhkan
dengan udara dingin khas Dieng dan Aroma belerang yang cukup kuat. Di Dieng ini
terkenal memiliki beberapa kawah seperti kawah Candradimuka dan juga kawah
Sikidang dan bau belerang itu dihasilkan dari kawah tersebut. Selain itu juga
ada telaga yang berbeda dengan telaga pada umumnya yaitu tegala yang berwarna
sehingga disebut dengan telaga warna. Jika ingin berwisata sejarah juga
terdapat kompleks Arjuna sebagai bukti peninggalan jaman Hindu pada saat itu.
Jika ingin mendapatkan sunrise terbaikpun, Dieng adalah salah satu tempat yang
tepat. Kalian bisa menikmati sunrise dari Bukit Sikunir maupun dari Bukit Prau.
Begitu
banyak memang tempat wisata yang ada di Dieng ini sehingga menjadikan tempat
ini tidak pernah sepi dari para wisatawan. Selain berbagai tempat wisata
menarik yang ada di Dieng ada sebuah festival tahunan di Dieng yang tiap
tahunnya selalu menyedot banyak wisatawan untuk berkunjung kesana. Festival itu
disebut dengan “ Dieng Culture Festival”. Ini adalah agenda rutin yang
dilaksanakan oleh kabupaten Banjarnegara yang dipenuhi dengan berbagai acara
yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan. Saya menyempatkan hadir di festival
ini pada tahun 2014 tepatnya dilaksanakan pada akhir Agustus. Acara ini memang
diadakan ketika sedang musim kemarau sekitar bulan Juli ataupun Agustus
sehingga bisa bebas menikmati festival ini dari awal sampai akhir tanpa
terhalang dengan adanya hujan. Resikonya saat musim kemarau
udara di Dieng akan menjadi lebih dingin dari biasanya, bahkan hingga ada bunga
es semacam butiran halus es yang akan kita jumpai pagi hari saat sedang berada
di Dieng.
Untuk
mengikuti festival ini, pengunjung disarankan untuk membeli tiket yang sudah
disediakan oleh panitia penyelenggara dan bisa didapatkan secara online. Tiket
sendiri dijual dalam berbagai kelas mulai dari kelas festival, VIP, hingga VVIP
dengan kisaran harga 175 ribu hingga 250 ribu. Setiap tahunnya tiket Dieng
festival ini terjual habis hingga banyak wisatawan yang tidak kebagian untuk
mendapatkannya, padahal panitia penyelenggara sudah menyediakan tiket ribuan
sesuai dengan kuota. Wisatawan dari berbagai daerah berkumpul semua untuk ikut
meramaikan festival ini, tidak hanya wisatawan yang sekedar ingin menghabiskan
akhir pekan mereka tetapi banyak para rekan media yang memang sudah mengincar
momen festival ini untuk dijadikan bahan berita.
Wonosobo
dan Banjarnegara sendiri sudah terkenal menjadi tempat yang asri dan memiliki
udara sejuk, apalagi saat kita sudah menapakkan kaki di dataran Tinggi Dieng
maka akan semakin terasa hawa sejuk yang cenderung dingin yang ditawarkan
didaerah ini. Untuk mencapai dataran tinggi Dieng sendiri banyak berbagai cara
baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, dan bisa ditempuh
dengan dua jalur baik via wonosobo maupun via Banjarnegara karena seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnnya bahwa dataran tinggi Dieng ini terdapat di 2
kabupaten. Kebanyakan wisatawan menggunakan jalur via Wonosobo untuk mencapai
Dieng, selain jalanannya sudah rapi juga akses kendaraan umum lebih mudah jika
ditempuh dari terminal Wonosobo. Ketika Dieng Festival saya bersama 3 teman
wanita saya mencoba menggunakan jalur Banjarnegara menggunakan motor, alasan
kami memilih jalur tersebut adalah dipicu dengan rasa penasaran bagaimana
kondisi jalur via Banjarnegara yang sebenarnya karena setiap saya main ke Dieng
saya selalu menggunakan jalur via Wonosobo yang sudah umum digunakan. Benar
memang jika lewat jalur Banjarnegara jalanan yang dilewati jauh berbeda jika
melewati Wonosobo. Kondisi jalanannya sendiri tidak serapi saat melewati Wonosobo,
kondisi aspal banyak yang rusak ditambah lagi dengan banyaknya tanjakan dan
belokan yang tajam membuat kita harus selalu berhati-hati dalam memacu
kendaraan kita. 4 orang wanita, 2 sepeda motor mencoba untuk menelusuri jalanan
menuju Dieng untuk bisa melihat pergelaran Dieng Culture Festival dan akhirnya
perjalanan panjang itu bisa dilalui dengan selamat walaupun terkadang ada
bagian sulit tetapi pemandangan indah selama perjalanan mengalahkan segalanya.
Baikknya
untuk mencapai Dieng melewati jalur Wonosobo yang sudah umum untuk dilewati
karena sangat mudah untuk akses kendaraann umumnya pula. Untuk mereka yang
berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Bandung, ataupun kota lainnya dan
menggunakan kendaraan umum, jika kalian menggunakan kereta kalian bisa berhenti
di stasiun Purwokerto ataupun Stasiun Kutoarjo untuk selanjutnya melanjutkan
perjalanan menuju terminal Wonosobo menggunakan bus kecil yang ada atau juga bisa langsung menggunakan
bus dari kota masing-masing dengan tujuan terminal Wonosobo. Dari terminal
Wonosobo perjalanan dilanjutkan menggunakan bus elf jurusan Dieng.
Selain
transportasi untuk menuju Dieng yang perlu dicermati adalah mengenai akomodasi.
Tidak sulit untuk menemukan penginapan di Dieng sebenarnya, tetapi saat
Festival Dieng pasti akan kesulitan untuk menemukan penginapan baik seperti
motel maupun homestay. Jika tidak dipesan jauh-jauh hari pastinya akan
kesulitan untuk mendapatkannya. Tiket yang berlaku tidak termasuk untuk
akomodasi sehingga wisatawan diharapkan mendapatkan penginapan sendiri baik
melalui jasa biro perjalanan maupun mencarinya sendiri. Untuk yang tidak
mendapatkan penginapan jangan khawatir, pihak penyelenggara menyediakan camping
ground untuk mereka yang tidak mendapatkan penginapan atau hanya sekedar ingin merasakan
sensasi kedinginan didalam tenda. Saya bersama teman-teman memutuskan untuk
tinggal di camping ground dengan biaya sewa 100 ribu sudah termasuk dengan
tenda dumbnya yang cukup untuk menampung hingga 4 orang pengunjung.
Pengelola
camping ground juga menyediakan lahan kosong tanpa tenda tentunya dengan harga
yang lebih murah tapi lebih sedikit merepotkan karena kita harus menyiapkan
tenda sendiri. Area camping ground ini masih terletak di sekitaran kompleks
Candi Arjuna tempat berlangsungnya seluruh kegiatan sehingga kita tidak akan
kerepotan untuk mengikuti seluruh acara. Di tempat tersebut juga disediakan
fasilitas toilet buatan, keran buatan dan mushola buatan untuk memudahkan para
wisatawan yang menggunakan area camping ground. Karena udara dingin yang bisa
mencapai suhu 10 derajat celcius sangat dianjurkan untuk membawa perlengkapan
seperti jaket outdoor, sarung tangan, kaos kaki, slepping bag dan matras untuk
yang tinggal di tenda. Api unggun juga disiapkan di tengah-tengah area camping
ground yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar menghangatkan tubuh sambil
duduk-duduk santai atau juga bisa digunakan untuk membakar jagung sambil
menghabiskan malam.
Apa
yang membedakan festival Dieng dengan festival lainnya yang ada di daerah
lain?. Tentunya banyak sekali perbedaannya dengan festival yang ada. Inti dari
Festival DIeng disini adalah sebenarnya prosesi pemotongan rambut gimbal anak
asli Dataran Tinggi Dieng. Menarik memang karena di Dieng sendiri terdapat
beberapa anak yang mempunyai rambut gimbal sedari lahir sehingga ini bukan
gimbal buatan. Anak berambut gimbal ini dipercaya masih memiliki keturunan
Dewa, sehingga dalam pemotongan rambut gimbal juga dilakukan tidak dengan
sembarangan. Prosesi pemotongan rambut gimbal sendiri bisa dilaksanakan jika
si-anak mau sendiri untuk dipotong rambutnya sehingga tidak ada paksaan dari
pihak orangtua maupun dari pihak lain. Dan sebelum dipotong rambutnya, anak ini
diperbolehkan meminta syarat apapun dan nantinya akan diberikan kepada si-anak
setelah prosesi pemotongan rambut gimbal ini selesai. Saat saya menghadiri
festial ini ada 7 anak yang akan dipotong rambutnya dan dengan berbagai macam
syarat yang diminat oleh si-anak. Ada yang meminta sepeda baru, sekeranjang
coklat, handphone, ada juga yang hanya minta didoakan selalu sehat dan menjadi
anak yang pintar. Setelah pemotongan rambut gimbal ini dipercaya rambut anak
ini tidak akan tumbuh gimbal lagi melainkan tumbuh secara normal dan tidak
sakit-sakitan lagi. Prosesinya sendiri ada beberapa tahapan mulai dari sang
anak diarak dari rumah tetua menuju pelataran kompleks Candi Arjuna tempat
dilaksanakannya prosesi pemotongan rambut gimbal, dan selanjutnya potongan
rambut gimbal tersebut akan diletakkan atau dibuang di telaga warna Dieng. Jadi
tidak sembarangan prosesi ini dilaksanakan, kental dengan unsur tradisional dan
kepercayaan leluhur yang masih dipegang teguh hingga sekarang oleh para
masyarakat sekitar Dieng.
Prosesi
pemotongan rambut gimbal hanya sebagian rangakaian gelaran Dieng Culture
Festival yang dijadikan acara puncak atau acara inti, tetapi sehari sebelumnya
banyak sekali acara yang tidak kalah meriahnya. Sehari sebelumnya sudah digelar
rangkaian acara seperti festival budaya yang menampilkan kesenian-kesenian
lokal dari daerah Banjarnegara maupun Wonosobo, lalu ada acara minum Purwaceng
bersama-sama, purwaceng sendiri adalah tanaman herbal yang hanya tumbuh di
Dieng sejenis gingseng yang bermanfaat untuk menambah stamina dan dipercaya
mampu menambah stamina untuk para kaum pria. Malam harinya digelar pertunjukan
musik jazz dengan judul “Jazz Atas Awan” dan dibarengi dengan penerbangan
ribuan lampion yang mengiasi langit Dieng pada malam hari. Ini bagian paling
indah menurut saya dari Dieng Culture Festival karena selain menikmati
dinginnya malam Dieng yang cukup menusuk tulang tetapi kemudian dihangatkan
dengan alunan music jazz yang semakin menambah semarak suasana malam Dieng.
Puluhan line up musisi jazz yang diundang untuk berpartisipasi dalam festival
jazz ini mulai dari musisi lokal sekitar Dieng dan Jawa tengah tetapi juga
terdapat musisi dari Jakarta dan Bandung yang ikut memeriahkan festival jazz
tersebut. Sambil menikmati jazz, saat bersamaan juga diterbangkan ribuan
lampion yang akan memenuhi langit sekitaran kompleks candi Arjuna dan selain
itu pula disertai dengan pesta kembang api yang mengagumkan. Untuk tahun ini
kegiatan penerbangan lampion dan festival jazz diadakan dimalam berbeda, tidak
seperti tahun sebelumnya yang selalu dilaksanakan dimalam yang sama. Lampion
tersebut diterbangkan oleh para pengunjung yang sebelumnya sudah mendapatkan
tiket Dieng Festival dan dalam tiket tersebut sudah termasuk mendapatkan kaos,
jagung bakar, lampion, kain, dll.
Tidak
heran festival ini selalu menarik minat wisatawan untuk kembali kesini walaupun
sudah pernah dating ditahun sebelumnya, festival ini tidak akan pernah membuat
bosan para pengunjungnya. Buat kalian yang menyukai jazz ada festival jazz Atas
Awan, untuk kalian yang ingin merasakan keindahan dan keromantisan malam Dieng
bisa dengan ikut serta menerbangkan lampion bersama dengan ribuan lampion yang
lain sehingga warna-warni langit candi Arjuna menjadi berubah berwarna. Untuk
mereka yang ingin mengetahui kebudayaan di Dieng bisa langsung ikut prosesi
pemotongan rambut gimbal dan juga atraksi kesenian lokal Dieng. Lengkap rasanya
dan tidak akan rugi jika kita menghabiskan akhir pekan kita untuk mendatangi
festival ini yang hanya diadakan sekali dalam setahun ini.