Langsung ke konten utama

Dieng Culture Festival: Budaya Tradisional dengan Pengelolaan yang Modern

Dunia pariwisata di Indonesia sekarang sedang mendapatkan perhatian yang besar, semakin banyak wisatawan mengujungi berbagai tempat wisata di Indonesia. Hal inilah yang kemudian menuntut banyaknya pihak untuk memfasilitasi para wisatawan untuk bisa lebih dimudahkan dalam mengakses segala informasi terkait dengan pariwisata yang akan dituju. Di era yang serba digital ini, para stakeholder pariwisata juga harus bisa memanfaatkan era digital ini untuk mengembangkan pariwisata menjadi sebuah potensi yang lebih besar lagi.
E-tourism menjadi salah satu cara yang dikembangkan untuk memudahkan para wisatawan dalam mengkases segala informasi dan fasilitas tempat pariwisata yang dituju. E-tourism menghubungkan seluruh stakeholder pariwisata, mempermudah proses perizinan, mengintegrasikan seluruh kegiatan pariwisata serta memberikan kemudahan bagi seluruh wisatawan untuk mendapatkan segala informasi terkait dengan tujuan wisata yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun.
Salah satu kegiatan pariwisata yang layak untuk dikunjungi adalah Dieng Culture Festival (DCF), merupakan salah satu acara wisata budaya yang menjadi acara tahunan yang berlokasi di kawasan dataran tinggi Dieng. Tahun 2015 merupakan tahun ke-6 penyelenggaraan acara tahunan ini dan dari tahun ke tahun pengunjung selalu mengalami peningkatan walaupun harga tiket yang ditawarkan oleh panitiapun dari tahun ketahunnya semakin mahal tetapi hal tersebut tidak mengurangi antusias para wiasatawan untuk mengikuti acara ini. Berdasarkan informasi yang didapat dari Pak Budi Hermanto selaku sterring committee untuk DCF menyebutkan bahwa tahun 2015 terjual habis tiket DCF sejumlah 3.400 yang terbagi dalam tiket VVIP dengan harga Rp 300.000,00 dan tiket VIP dengan harga Rp 200.000,00. Selain itu dijual tiket regular masuk kawasan candi saja dan tercatat ada sekitar 46.000 tiket terjual. Sedangkan untuk warga dari 10 desa dataran tinggi dieng bebas masuk kawasan dan terpantau tim checker ada sekitar 50.000 orang selama 3 hari selama berlangsungnya DCF. Hal yang membedakan tiket khusus DCF dengan tiket regular adalah pengunjung yang membeli tiket DCF bisa memasuki lokasi ritual tidak dengan yang regular.
Dieng Culture Festival mencoba menerapkan e-tourism melalui sistem online dalam penjualan tiket. Penjualan tiket DCF sendiri dilakukan secara online dengan tujuan untuk memudahkan para wisatawan terutama bagi para wisatawan yang berasal dari luar kota maupun mancanegara. Sejak tahun 2013 menggunakan sistem online dengan pembagian 60% pembelian tiket online secara mandiri dan 40% untuk jaringan biro travel yang sistem pembeliannya juga secara online. Keuntungan yang didapat dari biro perjalanan adalah adanya diskon sebesar 5% untuk pemebelian tiket. Pengelolaan website dan pembelian tiket online dilakukan dengan cara sewa server dan kemudian admin akan terhubung dengan internet untuk memverifikasi dengan pembeli tiket dan cek rekening di bank. Selain tiket yang bisa dipesan secara online, pemesanan online lainnya yang bisa dilakukan adalah pemesanan camping ground yang disediakan bagi para wisatawan yang tidak mendapatkan homestay maupun memang berniat untuk camping. Fasilitas pemesanan homestay sendiri panitia hanya menyediakan pilihan homestay beserta nomor yang dapat dihubungi tidak bisa dipesan secara online seperti pemesanan tiket maupun camping ground. Ide awal DCF dan semuanya dikelola oleh Komunitas Dieng Pandawa dan seiring berjalannya waktu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan kementrian pariwisata karena menjadi salah satu investasi pariwisata yang menjanjikan.
Media informasi untuk mendapatkan segala hal tentang DCF mulai dari agenda kegiatan, cara pembelian tiket, venue, rute menuju lokasi, info homestay dan lain-lain bisa didapatkan dari website www.dieng.id yang telah disediakan oleh panitia. Informasi yang lebih mendetail disediakan beberapa contact person yang bisa dihubungi via whatsapp dan bbm atau juga bisa memanfaatkan fasilitas twitter. Disana admin twitter akan mencoba menjawab hal yang ditanyakan serta memberikan informasi terbaru terkait pelakasanaan DCF.
Media promo untuk DCF sendiri melalui media sosial seperti twitter dan facebook serta melalui media berita seperti majalah pesawat terbang atau majalah musik dan hiburan. Semua itu gratis dan ditambah juga media promo dalam bentuk liputan khusus di tv kabel u-see tv. Keuntungan yang didapat dari media partner ini hanya mendapatkan tiket gratis DCF dan dimasukkan kedalam katalog. Cara promo lain yang dilakukan oleh panitia adalah panitia mempunyai data nomor handphone pengunjung sejak tahun 2013, dan ada sekitar 15 ribu orang yang berpotensi untuk datang kembali di DCF. Panitia tinggal menggunakan sms gateway, broadcast jadwal pembelian tiket.
Pak Budi memaparkan bahwa kendala selama pelaksanaan DCF terkait dengan kapasitas provider untuk menampung sistem jaringan internet yang dilakukan oleh seluruh pengunjung DCF. 1 alat yang dipasang dalam bts mampu menampung 600 user, salah satu providersudah berkoordinasi dengan memasang 6 alat dan masih tidak kuat menampung saat DCF berlangsung. Kepadatan jaringan hingga mencapai overload hanya saat DCF diluar itu traffic internet normal. Oleh karena itu salah satu provider masih berpikir panjang untuk berinvestasi bts tambahan karena biaya penambahan 1 bts mencapai 1 milyar. Sejauh ini yang bisa dilakukan hanya menambah bandwith saat DCF berlangsung tetapi hal itu tetap saja terbatas.

Pelaksana DCF mencoba memanfaatkan sistem teknologi informasi terkait dengan tujuan e-tourism sendiri yaitu memberikan pelayanan kepada wisatawan yang dilakukan secara online. Selain itu dengan semua informasi mengenai detail acara,akomodasi, dan transportasi dapat diakses secara online kapanpun dan dimanapun. Hal tersebut semakin memberikan kemudahan kepada para wisatawan dan menjadi salah satu usaha peningkatan pelayanan jasa dibidang pariwisata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganti : bukit, pasir putih, karang, tebing, perpaduan yang sempurna

di atas bukit pantai, sesi 1 foto2. semangat buat terbang lagi-lagi eksis pengen terbang tapi keberatan beban, hahaha trio apa ini? yang jelas cakep :D Girlband terbaru tebingnya oke banget lagi-lagi mencoba terbang gaya sok unyu, emang kita unyu sie :p ada penampakan di belakang trio dugong niee #katanya eksis teruss

Kesampean Juga ke Bukit Prau....

Ngga inget tepatnya kapan, ini cerita udah lama banget, tapi kayanya ini jadi salah satu jalan-jalan yang random banget, ngga ada rencana, tiba-tiba berangkat aja cuma gara-gara satu kali ajakan. Iya aku lemah banget kalo urusan diajakin main serba murah. Salah satu temen kuliah lagi pengen naik ke bukit prau, bukit atau gunung gue ngga paham. Tempat yang lagi ngehits gitu di daerah Dieng setelah Sikunir. Dichat diajakin buat nemenin, langsung mau aja tanpa pikir panjang. Pas tanya sama sapa aja, ternyata cuma sama dia doang. Jadilah perjalanan dua wanita mengendarai motor dari Purwokerto menuju Dieng. Udah mirip kaya dua cewe korban patah hati yang lagi nyari pelarian. Karena naik gunung itu peralatannya banyak, dan modalnyaku cuma modal jaket gunung sama nekat, alhasil lainnya minjem deh. Karena dia yang ngajakin, dia juga yang bantuin minjemin peralatan, udah kaya bawa bayi yah mau terima beresnya doang?, ya begitulah untungnya dia rela. Rencananya kita sampe Wonosobo ...

Titip Rindu Buat Kalian

Kangen? Iya mungkin, tapi akunya kelewat gengsi buat bilang kangen sama kalian. Setahun lepas kita udah balik ke peradaban masing-masing dan Cuma bisa berkabar lewat media sosial. Apa kabar rasanya guyonan kalian kalo ketemu langsung, dicengcengin soal urusan berat badan yang ngga tau kenapa dicengin sama kalian ngga bikin emosi sama sekali, atau sekedar ditoyor kepalanya gara-gara efek geregetan. Toyor sayang pastinya, hahaha.. Sumpah gue kangen kalian di belahan bumi manapun kalian berada, mau dibelahan bumi bekasi, belahan bumi jakarta.,tangerang, ataupun belahan bumi purwokerto. Purwokerto jadi basecamp buat kita yang dari antah berantah ngumpul disini. Gue sama kalian ngga punya hobi yang sama, ngga punya visi yang sama, tapi apalah persamaan kalo ujung-ujungnya bikin basi. Yang anti ngerokok berkedok atlet ada, yang doyannya ngerokok ampe ditakut-takutin paru-parunya bolong tapi tetep bandel ya ada. Populer ngga juga, beprestasi apalagi, tapi tanggung jawabnya m...