story

Senin, 20 Juni 2016

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Bersyukur

Kehidupan itu ajaib yah, ngga pernah bisa ditebak. Kadang dari kisah orang lain hingga pada akhirnya kita bisa mengucap syukur. Aku dapatkan kisah ini dari teman. Bukan seorang teman sudah kukenal bertahun-tahun, dia hanya seorang kenalan yang tidak sengaja aku temui saat kita sama-sama sedang berjuang dalam pencarian peruntungan.
Sebelumnya aku banyak mengeluh dengan penantian panjang, kelelahan mengejar peruntungan kesana-kemari, ratusan ribu uang yang harus dikeluarkan demi modal kesana-kemari di pulau Jawa ini. Tapi seorang teman yang baru kukenal menyadarkanku secara tidak langsung.
Perkenalan ini singkat saja karena kita sama-sama sendiri ditempat itu, karena perkenalan itu terjadi saat di akhir, saat kita akan pulang. Akhirnya kita memutuskan untuk saling bertukar nomor handphone dengan tujuan untuk bisa saling berkabar bagaimana kelanjutan dari pencarian ini, akankah sama-sama berlanjut atau tidak.
Seminggu sudah berlalu dan hasilnya aku tetap melanjutkan pencarian ini dan dia harus terhenti. Kupikir dia hanya seorang lulusan baru yang sedang heboh-hebohnya mencari kehidupan baru paska diwisuda. Kupikir dia juga masih tinggal satu pulau denganku sehingga pengorbananannya setaralah dengan pengorbananku. Kupikir awalnya seperti itu.
Perbincangan ini kumulai lewat pesan singkat yang diawali dengan saling bertukar kabar. Setelah saling bertukar kabar, baru kutahu bahwa dia sudah cukup lama berada di putaran pencarian ini. Dan ibukota ini bukanlah dimana dia berasal, dia berasal dari pulau seberang, pulau Andalas tepatnya. Dia sudah berbulan-bulan ada di ibukota ini untuk mencari peruntungan setelah lama berkutat mencari peruntungan di pulaunya.
Yang kutahu dia kini sudah kembali ke pulaunya karena panggilan orangtua. Dia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa kabar baik untuk orangtuanya. Tapi pulang dalam keadaan selamat jadi salah satu kabar baik untuk orangtuanya
Dia mengeluh memang kepadaku, tapi aku salut padanya. Berusaha berjuang hingga berani meninggalkan pulaunya dan berjuang bersama ribuan manusia lain di ibukota ini. Sesaat kemudian aku jadi teringat akan diriku sendiri. Secara tidak langsung dia mengingatkanku untuk bersyukur. Bersyukur bahwa nyatanya kamu tidak sendiri, bersyukur tidak perlu menyebrang lautan untuk mencari peruntungan.
Perjuanganmu memang serasa berat, tapi jika aku ingin membandingkan dengan teman yang baru kutemui, sungguh perjuanganmu belum ada apa-apanya. Penantian dia lebih panjang dibandingkan denganku.
Jadi masihkah aku harus terus mengeluh?. Aku bukan manusia yang ingin dikasihani, ini bukan keadaan terburukku karena aku masih bisa bersyukur. Aku masih punya kekuatan untuk berdiri lagi setelah berkali-kali jatuh. Nyatanya hidup ini memang perlu diperjuangkan apapun itu bentukknya.
Sesekali memang berpikir dengan adanya kalimat yang bilang kalau proses tidak akan pernah mengkhianati hasill. Kemudian muncul pertanyaan “apakah usahaku belum maksimal hingga aku masih mendapatkan hasil yang tidak memuaskan?”. Pertanyaan ini menuju kearah keluhan lalu menuju kearah yang tidak bersyukur hingga pada akhirnya mempertanyakan rencana Tuhan.
Rencana Tuhan yang mengatakan akan indah pada waktunya. Lalu kemudian bertanya lagi “memang kapan waktunya?”. Pertanyaan ini mulai saat diri sudah muali jenuh dan tidak sabar.
Bangga orang yang selalu sabar menunggu ketidakpastian dalam keyakinan penuh. Dia yang meyakini suatu ketidakpastian, dia cuma percaya itu ada tapi tidak pernah tahu kapan dia akan dapatkan sesuatu itu.
Waktu juga yang buat kamu punya banyak cerita, walau terkadang tidak mudah untuk menikmati waktu yang ada. Hingga tidak terasa waktu ini terlalu cepat habis. Detik demi detik dihabiskan tanpa berbuat apa-apa, hanya sibuk mengeluh dan ketakutan. Ketakutan tentang hari esok, kekhawatiran yang seharusnya tidak perlu karena itu adalah hal yang sia-sia.
*
Melihat orang yang sukses dan menginspirasi memang menyenangkan. Cerita masa susahpun seolah sangat memotivasi untuk didengarkan. Kisah bagaimana dia bangkit dari keterpurukan menjadi bagian yang menyedihkan tapi menggugah semangat. Begitulah enaknya jadi orang yang sudah sukses sehingga bisa menginspirasi banyak orang.
Lain ceritanya saat menceritakan kesulitan saat masih dalam keadaan susah dan belum sukses. Cerita susahnya hanya dianggap jadi curhatan yang perlu untuk dapat pengasihan. Kisah bagaimana dia bangkit dari keterpurukan lalu jatuh lagi dan belum bangkit lagi hingga sekarang hanya akan dipandang sebagai cerita sedih yang harus diberi semangat.
Pada akhirnya Cuma waktu yang bisa menjawabnya, apakah kedepannya dia akan menjadi sosok yang sukses atau terus terpuruk. Tapi selama dia terus berusaha, yakin saja kalau kesulitan tidak selamanya untuk ditangisi.
Sekarang mungkin kamu Cuma bisa menganga melihat temanmu yang sudah berganti-ganti gadget keren, selalu update bagaimana sibuknya dia bekerja, dan kamu hanya punya kesibukan memandangi aktivitasnya. Tenang semua ada masanya. Kalau hingga saat ini kamu masih sering mengalami segala masalah mungkin Tuhan menganggap kamu masih dianggap kuat untuk menjalani masalah ini.
*
Beberapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk mengirim email kepada salah satu seorang penulis yang sudah dikenal banyak orang. Bahkan bukunya sudah diangkat menjadi salah satu film. Aku mengirimkan email pagi hari dan sekitar beberapa jam muncul notifikasi di kotak masuk. Ada nama penulis itu di kotak masukku.
Aku bertanya hal ringan seputar bagaimana cara menulis dan mendapatkan ide saat menulis. Di awal balasan emailnya dia membalas dengan humor, terang saja dia kan memang penulis buku komedi. Tapi akhirnya dia menjelaskan secara ringan tpi masuk di pemikiranku mengenai bagaimana mendapatkan ide dalam menulis. Jelasnya biarkan hanya aku yang tahu.
Tanpa aku sadari aku juga bertanya bagaimana cara bertahan dalam masa penantian dalam pencarian peruntungan ini. Dengan bijak dan tanpa menggurui dia kembali membalas emailku tetap dengan gaya humornya diawal. Email singkatnya sejenak memberiku pencerahan bahwa saat kamu menikmati apa yang jadi permasalahanmu, masalahmu bukan lagi sebuah masalah tapi sebuah tantangan yang harus dipecahnkan.

Saat kamu menikmati masalah itu, disaat itu pula kamu bersyukur. 

Tidak ada komentar: