Kehidupan
itu ajaib yah, ngga pernah bisa ditebak. Kadang dari kisah orang lain hingga
pada akhirnya kita bisa mengucap syukur. Aku dapatkan kisah ini dari teman.
Bukan seorang teman sudah kukenal bertahun-tahun, dia hanya seorang kenalan
yang tidak sengaja aku temui saat kita sama-sama sedang berjuang dalam
pencarian peruntungan.
Sebelumnya
aku banyak mengeluh dengan penantian panjang, kelelahan mengejar peruntungan
kesana-kemari, ratusan ribu uang yang harus dikeluarkan demi modal
kesana-kemari di pulau Jawa ini. Tapi seorang teman yang baru kukenal
menyadarkanku secara tidak langsung.
Perkenalan
ini singkat saja karena kita sama-sama sendiri ditempat itu, karena perkenalan
itu terjadi saat di akhir, saat kita akan pulang. Akhirnya kita memutuskan untuk
saling bertukar nomor handphone dengan tujuan untuk bisa saling berkabar
bagaimana kelanjutan dari pencarian ini, akankah sama-sama berlanjut atau
tidak.
Seminggu
sudah berlalu dan hasilnya aku tetap melanjutkan pencarian ini dan dia harus
terhenti. Kupikir dia hanya seorang lulusan baru yang sedang heboh-hebohnya
mencari kehidupan baru paska diwisuda. Kupikir dia juga masih tinggal satu
pulau denganku sehingga pengorbananannya setaralah dengan pengorbananku.
Kupikir awalnya seperti itu.
Perbincangan
ini kumulai lewat pesan singkat yang diawali dengan saling bertukar kabar.
Setelah saling bertukar kabar, baru kutahu bahwa dia sudah cukup lama berada di
putaran pencarian ini. Dan ibukota ini bukanlah dimana dia berasal, dia berasal
dari pulau seberang, pulau Andalas tepatnya. Dia sudah berbulan-bulan ada di
ibukota ini untuk mencari peruntungan setelah lama berkutat mencari peruntungan
di pulaunya.
Yang
kutahu dia kini sudah kembali ke pulaunya karena panggilan orangtua. Dia pulang
dengan tangan hampa tanpa membawa kabar baik untuk orangtuanya. Tapi pulang
dalam keadaan selamat jadi salah satu kabar baik untuk orangtuanya
Dia
mengeluh memang kepadaku, tapi aku salut padanya. Berusaha berjuang hingga
berani meninggalkan pulaunya dan berjuang bersama ribuan manusia lain di
ibukota ini. Sesaat kemudian aku jadi teringat akan diriku sendiri. Secara
tidak langsung dia mengingatkanku untuk bersyukur. Bersyukur bahwa nyatanya
kamu tidak sendiri, bersyukur tidak perlu menyebrang lautan untuk mencari
peruntungan.
Perjuanganmu
memang serasa berat, tapi jika aku ingin membandingkan dengan teman yang baru
kutemui, sungguh perjuanganmu belum ada apa-apanya. Penantian dia lebih panjang
dibandingkan denganku.
Jadi
masihkah aku harus terus mengeluh?. Aku bukan manusia yang ingin dikasihani,
ini bukan keadaan terburukku karena aku masih bisa bersyukur. Aku masih punya
kekuatan untuk berdiri lagi setelah berkali-kali jatuh. Nyatanya hidup ini
memang perlu diperjuangkan apapun itu bentukknya.
Sesekali
memang berpikir dengan adanya kalimat yang bilang kalau proses tidak akan
pernah mengkhianati hasill. Kemudian muncul pertanyaan “apakah usahaku belum
maksimal hingga aku masih mendapatkan hasil yang tidak memuaskan?”. Pertanyaan
ini menuju kearah keluhan lalu menuju kearah yang tidak bersyukur hingga pada
akhirnya mempertanyakan rencana Tuhan.
Rencana
Tuhan yang mengatakan akan indah pada waktunya. Lalu kemudian bertanya lagi
“memang kapan waktunya?”. Pertanyaan ini mulai saat diri sudah muali jenuh dan
tidak sabar.
Bangga
orang yang selalu sabar menunggu ketidakpastian dalam keyakinan penuh. Dia yang
meyakini suatu ketidakpastian, dia cuma percaya itu ada tapi tidak pernah tahu
kapan dia akan dapatkan sesuatu itu.
Waktu
juga yang buat kamu punya banyak cerita, walau terkadang tidak mudah untuk
menikmati waktu yang ada. Hingga tidak terasa waktu ini terlalu cepat habis.
Detik demi detik dihabiskan tanpa berbuat apa-apa, hanya sibuk mengeluh dan
ketakutan. Ketakutan tentang hari esok, kekhawatiran yang seharusnya tidak
perlu karena itu adalah hal yang sia-sia.
*
Melihat
orang yang sukses dan menginspirasi memang menyenangkan. Cerita masa susahpun
seolah sangat memotivasi untuk didengarkan. Kisah bagaimana dia bangkit dari
keterpurukan menjadi bagian yang menyedihkan tapi menggugah semangat. Begitulah
enaknya jadi orang yang sudah sukses sehingga bisa menginspirasi banyak orang.
Lain
ceritanya saat menceritakan kesulitan saat masih dalam keadaan susah dan belum
sukses. Cerita susahnya hanya dianggap jadi curhatan yang perlu untuk dapat
pengasihan. Kisah bagaimana dia bangkit dari keterpurukan lalu jatuh lagi dan
belum bangkit lagi hingga sekarang hanya akan dipandang sebagai cerita sedih
yang harus diberi semangat.
Pada
akhirnya Cuma waktu yang bisa menjawabnya, apakah kedepannya dia akan menjadi
sosok yang sukses atau terus terpuruk. Tapi selama dia terus berusaha, yakin
saja kalau kesulitan tidak selamanya untuk ditangisi.
Sekarang
mungkin kamu Cuma bisa menganga melihat temanmu yang sudah berganti-ganti
gadget keren, selalu update bagaimana sibuknya dia bekerja, dan kamu hanya
punya kesibukan memandangi aktivitasnya. Tenang semua ada masanya. Kalau hingga
saat ini kamu masih sering mengalami segala masalah mungkin Tuhan menganggap
kamu masih dianggap kuat untuk menjalani masalah ini.
*
Beberapa
hari yang lalu aku memberanikan diri untuk mengirim email kepada salah satu
seorang penulis yang sudah dikenal banyak orang. Bahkan bukunya sudah diangkat
menjadi salah satu film. Aku mengirimkan email pagi hari dan sekitar beberapa
jam muncul notifikasi di kotak masuk. Ada nama penulis itu di kotak masukku.
Aku
bertanya hal ringan seputar bagaimana cara menulis dan mendapatkan ide saat
menulis. Di awal balasan emailnya dia membalas dengan humor, terang saja dia
kan memang penulis buku komedi. Tapi akhirnya dia menjelaskan secara ringan tpi
masuk di pemikiranku mengenai bagaimana mendapatkan ide dalam menulis. Jelasnya
biarkan hanya aku yang tahu.
Tanpa
aku sadari aku juga bertanya bagaimana cara bertahan dalam masa penantian dalam
pencarian peruntungan ini. Dengan bijak dan tanpa menggurui dia kembali
membalas emailku tetap dengan gaya humornya diawal. Email singkatnya sejenak
memberiku pencerahan bahwa saat kamu menikmati apa yang jadi permasalahanmu,
masalahmu bukan lagi sebuah masalah tapi sebuah tantangan yang harus
dipecahnkan.
Saat
kamu menikmati masalah itu, disaat itu pula kamu bersyukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar