story

Jumat, 28 Oktober 2016

Kampungku - part 2 (Terlalu Indah Mengenang Masa Kecil)

Aku hidup di masa kecil di tahun 90an, hidup di desa kecil di tahun segitu pasti mainan masa kecil akan sangat bervariatif. Bahkan untuk bermain kadang ada musimnya. Saat musim layangan, hampir semua anak-anak di desaku bermain layang-layang. Tidak terkecuali aku yang perempuan, selalu ingin ikut-ikutan mainan anak laki-laki. Alhasil kulitku jadi gelap karena hobi panas-panasan sepulang sekolah. Aku memang tidak bersekolah di desaku, aku disekolahkan di sekolah kecamatan. Enaklah jadi punya banyak teman, teman di sekolah akan berbeda dengan teman main kalau sudah dirumah.

Ngga cuma main layang-layang saat musim kemarau. Saat musim panen sudah usai kadang areal persawahan yang kering disulap jadi lapangan sepakbola oleh anak laki-laki. Untuk menghindari efek cedera akibat tanah sawah yang kering dan terbelah-belah maka ditutupi dengan jerami kering, jadi kalau sakit enak lah empuk pastinya. Selain jerami digunakan untuk menutupi tanah yang berongga saat bermain bola, kita juga sering bermain rumah-rumahan menggunakan jerami kering. Jerami kering dijadikan atap dan juga alas saat membuat rumah-rumahan. Efeknya aku pulang-pulang pasti langsung gatal-gatal karena efek jerami kering itu, tapi entah kenapa tidak ada kapoknya. Mungkin itulah ajaibnya anak kecil, susah untuk menyerah begitu saja.

Musim hujan tiba, hujan deras hampir setiap hari mengguyur desaku, pertanda musim tanam padi akan segera dimulai. Efek hujan deras yang terus menerus membuat sawah yang belum ditanami itu berubah menjadi seperti lautan, semuanya terendam air. Sawah masih jadi tempat favoritku saat bermain. Musim hujan tidak menjadikan kami kehilangan tempat bermain, justru inilah saatnya kami menjadi pelayar dadakan. Saat sawah sedang penuh dengan air dan nampak seperti lautan, itu saat yang tepat buat kami membuat perahu getek. Perahu getek dibuat dari batang pohon pisang yang ada disekitaran sawah yang disusun secara sejajar lalu disatukan dengan menggunakan bambu. Urusan membuat perahu getek ini jadi ahlinya anak laki-laki, aku cukup ikut menaikinya saja saat sudah jadi. Setidaknya rasanya kita bisa bermain di laut walau rumahku jauh dari pantai. Angin di sawah semakin membuat efek ombak yang seolah-olah kita sedang berlayar di lautan lepas.

Kalau diingat-ingat terlalu banyak permainan sederhana yang aku mainkan saat masih kecil bersama teman-teman satu kampung. Jaman dulu hidupku belum dijajah oleh gadget, lihat hape saja jarang-jarang. Dulu teman sekolahku waktu SD sudah ada yang membawa hape, dia anak orang berada. Seolah-olah hape layar kuning itu sungguh mengagumkan. Bisa dibawa kemana-mana, bisa untuk mengirim pesan dan untuk menelepon seseorang darimanapun. Dulu saat dirumah belum punya telepon, aku dan ibuku harus ke wartel saat subuh. Tarif interlokal saat subuh lebih murah ketimbang saat jam-jam sibuk. Tapi sekarang hampir tiap orang membawa hape kemana-mana, dan fungsinyapun bukan hanya untuk menelpon atau mengirim teks pesan saja. Ajaib memang teknologi selalu berubah dari waktu-ke waktu.

Jaman dulu temanku masih sering mengirimkan surat atau kartu pos untuk idolanya di televisi, lalu kalau sedang beruntung akan dibalas lagi menggunakan pos card oleh artis idola. Temanku pernah mendapatkan postcard balasan dari Leony Trio Kwek-Kwek, hampir tiap hari dia membawanya ke sekolah untuk memberitahukan ke teman-teman satu sekolahnya.

Jaman aku belum sekolahpun aku dulu sempet mencicipi bagaimana rasanya menonton televisi layar hitam putih dan hanya bisa menonton satu chanel tv saja, yang selalu menampilkan lagu Garuda Pancasila saat sore dan aku selalu bernyanyi saat ada lagu itu ada di tivi.Tapi itu tidak berselang lama saat akhirnya televisi itu diganti dengan televisi tabung berwarna berukuran 14 inch, salah satu merek dari Jepang yang terkenal waktu itu. Tontonan favoritku yang aku ingat saat hari Minggu di siang hari adalah Pendekar Wiro Sableng 212. Dia sakti sekali, dan punya banyak sekali jurus yang digunakan untuk mengalahkan para musuhnya. Senjata andalannya adalah kapak 212 pemberian dari sang Guru Sinto Gendeng.


Bangga rasanya punya masa kecil yang tak terlupakan yang tidak akan bisa dirasakan dimasa sekarang ini. Jaman memang terus berubah, semakin cangih teknologinya, mainan anak-anak juga sudah berbeda. Kalaupun mereka sekarang lebih suka main game online ketimbang main rumah gubuk atau perahu getek ya kita ngga bisa nyalahin siapa-siapa, memang jamannya yang membawa ke anak-anak untuk lebih asik dengan teknologi. 

Tidak ada komentar: