Langsung ke konten utama

Kampungku - part 2 (Terlalu Indah Mengenang Masa Kecil)

Aku hidup di masa kecil di tahun 90an, hidup di desa kecil di tahun segitu pasti mainan masa kecil akan sangat bervariatif. Bahkan untuk bermain kadang ada musimnya. Saat musim layangan, hampir semua anak-anak di desaku bermain layang-layang. Tidak terkecuali aku yang perempuan, selalu ingin ikut-ikutan mainan anak laki-laki. Alhasil kulitku jadi gelap karena hobi panas-panasan sepulang sekolah. Aku memang tidak bersekolah di desaku, aku disekolahkan di sekolah kecamatan. Enaklah jadi punya banyak teman, teman di sekolah akan berbeda dengan teman main kalau sudah dirumah.

Ngga cuma main layang-layang saat musim kemarau. Saat musim panen sudah usai kadang areal persawahan yang kering disulap jadi lapangan sepakbola oleh anak laki-laki. Untuk menghindari efek cedera akibat tanah sawah yang kering dan terbelah-belah maka ditutupi dengan jerami kering, jadi kalau sakit enak lah empuk pastinya. Selain jerami digunakan untuk menutupi tanah yang berongga saat bermain bola, kita juga sering bermain rumah-rumahan menggunakan jerami kering. Jerami kering dijadikan atap dan juga alas saat membuat rumah-rumahan. Efeknya aku pulang-pulang pasti langsung gatal-gatal karena efek jerami kering itu, tapi entah kenapa tidak ada kapoknya. Mungkin itulah ajaibnya anak kecil, susah untuk menyerah begitu saja.

Musim hujan tiba, hujan deras hampir setiap hari mengguyur desaku, pertanda musim tanam padi akan segera dimulai. Efek hujan deras yang terus menerus membuat sawah yang belum ditanami itu berubah menjadi seperti lautan, semuanya terendam air. Sawah masih jadi tempat favoritku saat bermain. Musim hujan tidak menjadikan kami kehilangan tempat bermain, justru inilah saatnya kami menjadi pelayar dadakan. Saat sawah sedang penuh dengan air dan nampak seperti lautan, itu saat yang tepat buat kami membuat perahu getek. Perahu getek dibuat dari batang pohon pisang yang ada disekitaran sawah yang disusun secara sejajar lalu disatukan dengan menggunakan bambu. Urusan membuat perahu getek ini jadi ahlinya anak laki-laki, aku cukup ikut menaikinya saja saat sudah jadi. Setidaknya rasanya kita bisa bermain di laut walau rumahku jauh dari pantai. Angin di sawah semakin membuat efek ombak yang seolah-olah kita sedang berlayar di lautan lepas.

Kalau diingat-ingat terlalu banyak permainan sederhana yang aku mainkan saat masih kecil bersama teman-teman satu kampung. Jaman dulu hidupku belum dijajah oleh gadget, lihat hape saja jarang-jarang. Dulu teman sekolahku waktu SD sudah ada yang membawa hape, dia anak orang berada. Seolah-olah hape layar kuning itu sungguh mengagumkan. Bisa dibawa kemana-mana, bisa untuk mengirim pesan dan untuk menelepon seseorang darimanapun. Dulu saat dirumah belum punya telepon, aku dan ibuku harus ke wartel saat subuh. Tarif interlokal saat subuh lebih murah ketimbang saat jam-jam sibuk. Tapi sekarang hampir tiap orang membawa hape kemana-mana, dan fungsinyapun bukan hanya untuk menelpon atau mengirim teks pesan saja. Ajaib memang teknologi selalu berubah dari waktu-ke waktu.

Jaman dulu temanku masih sering mengirimkan surat atau kartu pos untuk idolanya di televisi, lalu kalau sedang beruntung akan dibalas lagi menggunakan pos card oleh artis idola. Temanku pernah mendapatkan postcard balasan dari Leony Trio Kwek-Kwek, hampir tiap hari dia membawanya ke sekolah untuk memberitahukan ke teman-teman satu sekolahnya.

Jaman aku belum sekolahpun aku dulu sempet mencicipi bagaimana rasanya menonton televisi layar hitam putih dan hanya bisa menonton satu chanel tv saja, yang selalu menampilkan lagu Garuda Pancasila saat sore dan aku selalu bernyanyi saat ada lagu itu ada di tivi.Tapi itu tidak berselang lama saat akhirnya televisi itu diganti dengan televisi tabung berwarna berukuran 14 inch, salah satu merek dari Jepang yang terkenal waktu itu. Tontonan favoritku yang aku ingat saat hari Minggu di siang hari adalah Pendekar Wiro Sableng 212. Dia sakti sekali, dan punya banyak sekali jurus yang digunakan untuk mengalahkan para musuhnya. Senjata andalannya adalah kapak 212 pemberian dari sang Guru Sinto Gendeng.


Bangga rasanya punya masa kecil yang tak terlupakan yang tidak akan bisa dirasakan dimasa sekarang ini. Jaman memang terus berubah, semakin cangih teknologinya, mainan anak-anak juga sudah berbeda. Kalaupun mereka sekarang lebih suka main game online ketimbang main rumah gubuk atau perahu getek ya kita ngga bisa nyalahin siapa-siapa, memang jamannya yang membawa ke anak-anak untuk lebih asik dengan teknologi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganti : bukit, pasir putih, karang, tebing, perpaduan yang sempurna

di atas bukit pantai, sesi 1 foto2. semangat buat terbang lagi-lagi eksis pengen terbang tapi keberatan beban, hahaha trio apa ini? yang jelas cakep :D Girlband terbaru tebingnya oke banget lagi-lagi mencoba terbang gaya sok unyu, emang kita unyu sie :p ada penampakan di belakang trio dugong niee #katanya eksis teruss

Kesampean Juga ke Bukit Prau....

Ngga inget tepatnya kapan, ini cerita udah lama banget, tapi kayanya ini jadi salah satu jalan-jalan yang random banget, ngga ada rencana, tiba-tiba berangkat aja cuma gara-gara satu kali ajakan. Iya aku lemah banget kalo urusan diajakin main serba murah. Salah satu temen kuliah lagi pengen naik ke bukit prau, bukit atau gunung gue ngga paham. Tempat yang lagi ngehits gitu di daerah Dieng setelah Sikunir. Dichat diajakin buat nemenin, langsung mau aja tanpa pikir panjang. Pas tanya sama sapa aja, ternyata cuma sama dia doang. Jadilah perjalanan dua wanita mengendarai motor dari Purwokerto menuju Dieng. Udah mirip kaya dua cewe korban patah hati yang lagi nyari pelarian. Karena naik gunung itu peralatannya banyak, dan modalnyaku cuma modal jaket gunung sama nekat, alhasil lainnya minjem deh. Karena dia yang ngajakin, dia juga yang bantuin minjemin peralatan, udah kaya bawa bayi yah mau terima beresnya doang?, ya begitulah untungnya dia rela. Rencananya kita sampe Wonosobo ...

Titip Rindu Buat Kalian

Kangen? Iya mungkin, tapi akunya kelewat gengsi buat bilang kangen sama kalian. Setahun lepas kita udah balik ke peradaban masing-masing dan Cuma bisa berkabar lewat media sosial. Apa kabar rasanya guyonan kalian kalo ketemu langsung, dicengcengin soal urusan berat badan yang ngga tau kenapa dicengin sama kalian ngga bikin emosi sama sekali, atau sekedar ditoyor kepalanya gara-gara efek geregetan. Toyor sayang pastinya, hahaha.. Sumpah gue kangen kalian di belahan bumi manapun kalian berada, mau dibelahan bumi bekasi, belahan bumi jakarta.,tangerang, ataupun belahan bumi purwokerto. Purwokerto jadi basecamp buat kita yang dari antah berantah ngumpul disini. Gue sama kalian ngga punya hobi yang sama, ngga punya visi yang sama, tapi apalah persamaan kalo ujung-ujungnya bikin basi. Yang anti ngerokok berkedok atlet ada, yang doyannya ngerokok ampe ditakut-takutin paru-parunya bolong tapi tetep bandel ya ada. Populer ngga juga, beprestasi apalagi, tapi tanggung jawabnya m...