Awal Agustus,
Hujan dimusim seperti ini sepertinya bukan yang diinginkan
petani. Di daerahku saat ini sedang musim panen padi. Hujan jadi suatu hal yang
merepotkan kala musim musim panen tiba. Padi yang belum dipetik, ketika
malamnya hujan deras, pagi harinya ketika hendak dipetik pasti akan kesulitan
karena lahan persawahan menjadi basah dan berlumpur. Beda lagi dengan mereka
yang sudah memanen hasil sawahnya, mereka harus bermain dengan waktu siap-siap
jika hujan datang mendahului sore maka mereka akan segera bergegas mengamankan
hasil jemuran padi. Belum lagi beratnya beban tumpukan padi yang harus dibawa,
lumayan sebenarnya untuk melatih otot daripada sibuk ketempat fitnes,
angkat-angkat karung padi lumayan bikin kamu berotot kok.
Beginilah kehidupan di kampungku, salah satu kampung kecil
di sebuah kabupaten kecil. Tidak banyak mata pencaharian di desa ini, lebih
banyak dari mereka mengandalkan sawah sebagai pokok mata pencaharian. Areal
sawah di kampungku lumayan luas, cukuplah untuk kalian bersantai menikmati senja
dikala sore. Mungkin kehidupan sederhana ini yang akan selalu dirindukan saat
pergi jauh dari kampungku ini.
Walaupun aku tidak dilahirkan di kampung ini, tapi aku
menghabiskan masa kecilku disini, berteman dengan anak-anak disini, bersekolah
disini, jadi rasanya sangat tidak mungkin untuk hanya sekedar memiliki rasa
biasa saja akan kampungku ini.
Modernitas memang sudah masuk ke kampung-kampung seperti
halnya internet, tapi tradisi di kampungku juga masih cukup kental. Setiap
setahun sekali dikampungku selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit, biasanya
acara ini diadakan sekitar bulan Agustus. Selain untuk memperingati hari
kemerdekaan Republik Indonesia, acara ini juga sebagai bentuk rasa syukur yang
ditunjukkan akan hasil panen yang sudah didapat oleh warga di kampungku.
Pertujukan wayang kulit akan diadakan semalam suntuk, aku
suka ketika di kampungku sedang ada tontonan seperti ini, pasti akan banyak
sekali pedagang makanan membuka lapaknya disekitar tontonan dan ini jadi area
favoritku. Aku memang kurang mengerti tentang bahasa wayang, kalau aku nonto
wayang itu juga karena hanya sekedar menemani mbahku saja yang suka dengan
wayang kulit. Selebihnya paling aku tinggal tidur.
Lain wayang kulit, lain lagi tontonan kuda lumping. Tontonan
ini sering ada saat sedang ada hajatan disalah satu orang di kampungku.
Tontonan ini juga jadi favoritku, walaupun terkadang sedikit menakutkan saat
para penari kuda lumping sedang kerasukan. Kuda lumping jika dikampungku
disebut dengan ebleg. Pemainnya juga warga dari kampungku lho. Mulai dari ebleg
dewasa hingga ebleg kecil hadir disini. Senang rasanya kalau anak kecil disini
masih sangat antusias untuk ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini, setidaknya
regenerasi tetap berjalan. Selama masih ada yang berminat untuk mengundang
kelompok kuda lumping ini dapat dipastikan tontonan tradisional ini akan terus
bisa kita nikmati hingga nanti anak cucu kita.
Bahas apa yang ada dikampungku rasanya tak pernah
membosankan buatku. Saat aku penat dengan kehidupan kota, aku tidak perlu
mahal-mahal terbang ke Ubud lalu menyewa villa kesana hanya untuk sekedar
mendapatkan udara pedesaan yang sejuk dengan hamparan sawah yang luas, cukup
pulang ke kampungku saja, pulang kerumah pasti rasanya jauh lebih menyenangkan.
Udara sejuk tersedia, hamparan sawahpun ada didepan mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar