story

Senin, 29 Agustus 2016

Kampungku (part 1)

Awal Agustus,

Hujan dimusim seperti ini sepertinya bukan yang diinginkan petani. Di daerahku saat ini sedang musim panen padi. Hujan jadi suatu hal yang merepotkan kala musim musim panen tiba. Padi yang belum dipetik, ketika malamnya hujan deras, pagi harinya ketika hendak dipetik pasti akan kesulitan karena lahan persawahan menjadi basah dan berlumpur. Beda lagi dengan mereka yang sudah memanen hasil sawahnya, mereka harus bermain dengan waktu siap-siap jika hujan datang mendahului sore maka mereka akan segera bergegas mengamankan hasil jemuran padi. Belum lagi beratnya beban tumpukan padi yang harus dibawa, lumayan sebenarnya untuk melatih otot daripada sibuk ketempat fitnes, angkat-angkat karung padi lumayan bikin kamu berotot kok.

Beginilah kehidupan di kampungku, salah satu kampung kecil di sebuah kabupaten kecil. Tidak banyak mata pencaharian di desa ini, lebih banyak dari mereka mengandalkan sawah sebagai pokok mata pencaharian. Areal sawah di kampungku lumayan luas, cukuplah untuk kalian bersantai menikmati senja dikala sore. Mungkin kehidupan sederhana ini yang akan selalu dirindukan saat pergi jauh dari kampungku ini.

Walaupun aku tidak dilahirkan di kampung ini, tapi aku menghabiskan masa kecilku disini, berteman dengan anak-anak disini, bersekolah disini, jadi rasanya sangat tidak mungkin untuk hanya sekedar memiliki rasa biasa saja akan kampungku ini.

Modernitas memang sudah masuk ke kampung-kampung seperti halnya internet, tapi tradisi di kampungku juga masih cukup kental. Setiap setahun sekali dikampungku selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit, biasanya acara ini diadakan sekitar bulan Agustus. Selain untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, acara ini juga sebagai bentuk rasa syukur yang ditunjukkan akan hasil panen yang sudah didapat oleh warga di kampungku.

Pertujukan wayang kulit akan diadakan semalam suntuk, aku suka ketika di kampungku sedang ada tontonan seperti ini, pasti akan banyak sekali pedagang makanan membuka lapaknya disekitar tontonan dan ini jadi area favoritku. Aku memang kurang mengerti tentang bahasa wayang, kalau aku nonto wayang itu juga karena hanya sekedar menemani mbahku saja yang suka dengan wayang kulit. Selebihnya paling aku tinggal tidur.

Lain wayang kulit, lain lagi tontonan kuda lumping. Tontonan ini sering ada saat sedang ada hajatan disalah satu orang di kampungku. Tontonan ini juga jadi favoritku, walaupun terkadang sedikit menakutkan saat para penari kuda lumping sedang kerasukan. Kuda lumping jika dikampungku disebut dengan ebleg. Pemainnya juga warga dari kampungku lho. Mulai dari ebleg dewasa hingga ebleg kecil hadir disini. Senang rasanya kalau anak kecil disini masih sangat antusias untuk ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini, setidaknya regenerasi tetap berjalan. Selama masih ada yang berminat untuk mengundang kelompok kuda lumping ini dapat dipastikan tontonan tradisional ini akan terus bisa kita nikmati hingga nanti anak cucu kita.


Bahas apa yang ada dikampungku rasanya tak pernah membosankan buatku. Saat aku penat dengan kehidupan kota, aku tidak perlu mahal-mahal terbang ke Ubud lalu menyewa villa kesana hanya untuk sekedar mendapatkan udara pedesaan yang sejuk dengan hamparan sawah yang luas, cukup pulang ke kampungku saja, pulang kerumah pasti rasanya jauh lebih menyenangkan. Udara sejuk tersedia, hamparan sawahpun ada didepan mata. 

Tidak ada komentar: