Langsung ke konten utama

Kampungku (part 1)

Awal Agustus,

Hujan dimusim seperti ini sepertinya bukan yang diinginkan petani. Di daerahku saat ini sedang musim panen padi. Hujan jadi suatu hal yang merepotkan kala musim musim panen tiba. Padi yang belum dipetik, ketika malamnya hujan deras, pagi harinya ketika hendak dipetik pasti akan kesulitan karena lahan persawahan menjadi basah dan berlumpur. Beda lagi dengan mereka yang sudah memanen hasil sawahnya, mereka harus bermain dengan waktu siap-siap jika hujan datang mendahului sore maka mereka akan segera bergegas mengamankan hasil jemuran padi. Belum lagi beratnya beban tumpukan padi yang harus dibawa, lumayan sebenarnya untuk melatih otot daripada sibuk ketempat fitnes, angkat-angkat karung padi lumayan bikin kamu berotot kok.

Beginilah kehidupan di kampungku, salah satu kampung kecil di sebuah kabupaten kecil. Tidak banyak mata pencaharian di desa ini, lebih banyak dari mereka mengandalkan sawah sebagai pokok mata pencaharian. Areal sawah di kampungku lumayan luas, cukuplah untuk kalian bersantai menikmati senja dikala sore. Mungkin kehidupan sederhana ini yang akan selalu dirindukan saat pergi jauh dari kampungku ini.

Walaupun aku tidak dilahirkan di kampung ini, tapi aku menghabiskan masa kecilku disini, berteman dengan anak-anak disini, bersekolah disini, jadi rasanya sangat tidak mungkin untuk hanya sekedar memiliki rasa biasa saja akan kampungku ini.

Modernitas memang sudah masuk ke kampung-kampung seperti halnya internet, tapi tradisi di kampungku juga masih cukup kental. Setiap setahun sekali dikampungku selalu mengadakan pertunjukan wayang kulit, biasanya acara ini diadakan sekitar bulan Agustus. Selain untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, acara ini juga sebagai bentuk rasa syukur yang ditunjukkan akan hasil panen yang sudah didapat oleh warga di kampungku.

Pertujukan wayang kulit akan diadakan semalam suntuk, aku suka ketika di kampungku sedang ada tontonan seperti ini, pasti akan banyak sekali pedagang makanan membuka lapaknya disekitar tontonan dan ini jadi area favoritku. Aku memang kurang mengerti tentang bahasa wayang, kalau aku nonto wayang itu juga karena hanya sekedar menemani mbahku saja yang suka dengan wayang kulit. Selebihnya paling aku tinggal tidur.

Lain wayang kulit, lain lagi tontonan kuda lumping. Tontonan ini sering ada saat sedang ada hajatan disalah satu orang di kampungku. Tontonan ini juga jadi favoritku, walaupun terkadang sedikit menakutkan saat para penari kuda lumping sedang kerasukan. Kuda lumping jika dikampungku disebut dengan ebleg. Pemainnya juga warga dari kampungku lho. Mulai dari ebleg dewasa hingga ebleg kecil hadir disini. Senang rasanya kalau anak kecil disini masih sangat antusias untuk ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini, setidaknya regenerasi tetap berjalan. Selama masih ada yang berminat untuk mengundang kelompok kuda lumping ini dapat dipastikan tontonan tradisional ini akan terus bisa kita nikmati hingga nanti anak cucu kita.


Bahas apa yang ada dikampungku rasanya tak pernah membosankan buatku. Saat aku penat dengan kehidupan kota, aku tidak perlu mahal-mahal terbang ke Ubud lalu menyewa villa kesana hanya untuk sekedar mendapatkan udara pedesaan yang sejuk dengan hamparan sawah yang luas, cukup pulang ke kampungku saja, pulang kerumah pasti rasanya jauh lebih menyenangkan. Udara sejuk tersedia, hamparan sawahpun ada didepan mata. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganti : bukit, pasir putih, karang, tebing, perpaduan yang sempurna

di atas bukit pantai, sesi 1 foto2. semangat buat terbang lagi-lagi eksis pengen terbang tapi keberatan beban, hahaha trio apa ini? yang jelas cakep :D Girlband terbaru tebingnya oke banget lagi-lagi mencoba terbang gaya sok unyu, emang kita unyu sie :p ada penampakan di belakang trio dugong niee #katanya eksis teruss

Kesampean Juga ke Bukit Prau....

Ngga inget tepatnya kapan, ini cerita udah lama banget, tapi kayanya ini jadi salah satu jalan-jalan yang random banget, ngga ada rencana, tiba-tiba berangkat aja cuma gara-gara satu kali ajakan. Iya aku lemah banget kalo urusan diajakin main serba murah. Salah satu temen kuliah lagi pengen naik ke bukit prau, bukit atau gunung gue ngga paham. Tempat yang lagi ngehits gitu di daerah Dieng setelah Sikunir. Dichat diajakin buat nemenin, langsung mau aja tanpa pikir panjang. Pas tanya sama sapa aja, ternyata cuma sama dia doang. Jadilah perjalanan dua wanita mengendarai motor dari Purwokerto menuju Dieng. Udah mirip kaya dua cewe korban patah hati yang lagi nyari pelarian. Karena naik gunung itu peralatannya banyak, dan modalnyaku cuma modal jaket gunung sama nekat, alhasil lainnya minjem deh. Karena dia yang ngajakin, dia juga yang bantuin minjemin peralatan, udah kaya bawa bayi yah mau terima beresnya doang?, ya begitulah untungnya dia rela. Rencananya kita sampe Wonosobo ...

Kampungku - part 2 (Terlalu Indah Mengenang Masa Kecil)

Aku hidup di masa kecil di tahun 90an, hidup di desa kecil di tahun segitu pasti mainan masa kecil akan sangat bervariatif. Bahkan untuk bermain kadang ada musimnya. Saat musim layangan, hampir semua anak-anak di desaku bermain layang-layang. Tidak terkecuali aku yang perempuan, selalu ingin ikut-ikutan mainan anak laki-laki. Alhasil kulitku jadi gelap karena hobi panas-panasan sepulang sekolah. Aku memang tidak bersekolah di desaku, aku disekolahkan di sekolah kecamatan. Enaklah jadi punya banyak teman, teman di sekolah akan berbeda dengan teman main kalau sudah dirumah. Ngga cuma main layang-layang saat musim kemarau. Saat musim panen sudah usai kadang areal persawahan yang kering disulap jadi lapangan sepakbola oleh anak laki-laki. Untuk menghindari efek cedera akibat tanah sawah yang kering dan terbelah-belah maka ditutupi dengan jerami kering, jadi kalau sakit enak lah empuk pastinya. Selain jerami digunakan untuk menutupi tanah yang berongga saat bermain bola, kita juga ser...